Home News Langgam Medan Membetot Perhatian

Langgam Medan Membetot Perhatian

8
0
Langgam Medan Membetot Perhatian


Jakarta

Surat lamaran kerja ‘Anak Medan’ viral di media sosial. Yang menjadi sorotan adalah gaya bahasa atau penggunaan kata-kata dalam surat tersebut.

Ada yang menganggap gaya bahasa tersebut adalah khas ‘anak Medan’ yang frontal atau blak-blakan. Lalu bagaimana sebenarnya gaya bahasa ‘anak Medan’ itu sendiri?

Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Medan Area (UMA) Ara Auza menjelaskan soal gaya bahasa atau berkomunikasi seperti yang digunakan dalam surat tersebut. Dia menyebut bahasa ‘anak Medan’ memang unik dan perlu penelitian lebih jauh soal gaya khas bicara orang-orang di Medan.

“‘Bahasa Medan’ memang unik dan menarik perhatian. Kekhasan bahasa Medan ini memang perlu ditelisik lebih jauh. Banyak tokoh yang menggunakan ‘bahasa Medan’ mendapat positioning yang baik di media massa, bahkan jauh sebelum adanya media sosial,” kata Ara, Senin (7/9/2020).

Ara menyebut cara bicara hingga pemilihan kata-kata khas orang Medan itu sering digunakan oleh orang-orang untuk menarik perhatian, khususnya di industri hiburan. Dia mencontohkan soal penggunaan dialek khas Medan di film ‘Warkop DKI’ hingga gaya khas Poltak Raja Minyak dari Medan yang populer pada awal 2000-an.

“Indro ‘Warkop’ dalam film ‘Warkop’ sering menggunakan dialek Medan, Poltak Raja Minyak dari Medan di awal tahun 2000-an. Kemudian, beranjak ke era medsos kita mengenal Mak Beti, Mak Gardam, Gita Bebita, menggunakan dialek Medan dan viral,” ujar Ara.

Dia menilai gaya bahasa khas anak Medan ini menarik perhatian karena terdengar atau terlihat frontal. Dalam komunikasi sehari-hari, kata Ara, gaya bahasa anak Medan ini bukan masalah. Namun, jika gaya bahasa seperti itu dipakai untuk hal formal, seperti surat lamaran kerja, bakal menjadi masalah.

“Yang didapati dalam surat lamaran yang sedang viral merupakan bahasa percakapan yang dituliskan. Bentuknya adalah bahasa lisan yang dibuat dalam bentuk tulisan, jadi terlihat baru bagi sebagian orang. Padahal dialek Medan tersebut sering diucapkan melalui lisan atau oral. Mungkin saja baru kali ini ada yang menuliskan bahasa Medan secara tulisan, meme, atau bentuk lainnya dan dianggap viral,” ujar Ara.

“Kalau memang benar surat lamaran itu disampaikan kepada perusahaan, secara struktur kata dan kalimat pasti salah. Surat resmi seharusnya mengikuti struktur kata atau kalimat yang sudah ada seperti S-P-O-K dan/atau dalam bentuk pasif. Kalau frontal secara lisan memang nggak ada masalah. Menjadi masalah karena dalam bentuk tulisan. Kaidah penulisan kan harus merujuk pada struktur yang ada,” sebut Ara.



Source

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here